NAMA : LESTRYA RAMADHANI
NIM : 153070106
Otoritarianisme versus Liberitarianisme
Pers Otoritarian
Pers otoritarian identik dengan situasi dimana kebenaran dianggap sebagai milik para pemegang kekuasaan. Tidak peduli apakah kebijakan sang penguasa tersebut menindas rakyat atau sebagainya, karena kekuasaan adalah segalanya. Masa ini muncul pada masa iklim otoritarian di akhir Renaisans Eropa, beberapa waktu setelah ditemukannya mesin ceta. Dalam kondisi masyarakat seperti itu, kebenaran adalah suatu hal yang dianggap bukanlah hasil dari masarakyat, melainkan dari sekelompok kecil para pemegang tangguk kekuasaan. Penguasa dalam menjalankan kekuasaannya menggunakan pers sebagai alat untuk memberi informasi kepada rakyat-rakyat tentang kebijakan-kebijakan penguasa yang harus didukung.
Intinya kebenaran dianggap harus diletakkan dekat dengan pusat kekuasaan.
Pers Liberitarian
Teori ini memutarbalikkan pososo manusia dan Negara sebagaimana yang dianggap oleh teori otoritarian. Manusia tidak lagi dianggap sebagai makhluk berakal yang mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, antara alternative yang lebih baik dengan yang lebih buruk, jika dihadapkan pada bukti-bukti yang bertentangan dengan pilihan-pilihan alternative. Kebenaran tidak lagi dianggap sebagai milik penguasa. Melainkan, hak mencari kebenaran adalah salah satu hak asasi manusia. Liberitarian disini berperan sebagai control pemerintahan. Pers pada masa ini berperan sebagai sebuah alat untuk menyajikan bukti dan argument-argumen yang akan menjadi landasan bagi orang banyak untuk mengawasi pemerintahan dan menentukan sikap terhadap kebijaksanaannya. Agar kebenaran bisa muncul, semua pendapat harus dapat kesempatan yang sama untuk didengar, harus ada pasar bebas pemikiran-pemikiran dan informasi. Baik kaum minoritas maupun kaum mayoritas, kuat maupun lemah, harus dapat menggunakan pers.
Kamis, 25 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar